Search This Blog

Thursday, September 2, 2021

SURAT TERBUKA KEPADA KARDINAL IGNATIUS SUHARYO DAN USKUP JAYAPURA

"Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus tolong kami. Saya sangat gelisah, Tuhan.”

Perihal  : Mengingatkan agar mempertimbangkan kembali.

Dari   : Soleman Itlay—Umat Katolik di Tanah Papua.

Alamat  : Sementara saya tinggal di kota Jayapura.

Gmail  : dani.tribesman@gmail.com.

Ditujukan secara khusus kepada Yang Mulia:

1. Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Ketua Konference Waligereja Indonesia (KWI) di Jakarta.

2. Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM di Jayapura.

3. Semua pihak terkait.

Salam hormat dan salam damai Tuhan Yesus Kristus dari saya, Soleman Itlay.  Semoga bapa uskup dua sehat-sehat dan baik-baik selalu. Wa wa wa. 

Hallo… Bapa Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Bapa Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. Saya sudah baca dokumen yang bapa berdua sedang merancang sebuah kegiatan “Penyerahan dua patung Bunda Maria yakni Maria Bunda Yesus – Bunda Papua Tanah Damai dan Maria Bunda Segala Suku” yang dianggap momentum bersejarah “secara diam-diam”. Katanya, seperti yang tertulis—kegiatan ini akan berlangsung menjelang atau pasca pelaksanaan PON 2021 di tanah Papua untuk menarik perhatian dunia internasional menyangkut  situasi “politik dan pelanggaran HAM di tanah Papua?”. 

Bapa uskup dua, saya telah menerima dokumen “rahasia” pada hari ini, Rabu, 1 September 2021 pada pukul 16:39 WIT. Saya katakan dokumen rahasia karena kegiatan tersebut hendak diwujudkan dalam waktu dekat, tetapi umat katolik di tanah Papua tidak tahu sama sekali. Yang ada dan terkesan dalam dokumen berjudul “Patung Proposal” itu hanya diprakarsai oleh satu dua orang atau kelompok tertentu untuk menarik perhatian dunia internasional di samping hendak menunjukkan kebhinekaan Indonesia di atas tanah Papua yang kini menjadi milik para pemuka negara—bukan orang asli Papua lagi—dll. 

Adapun makna dari momentum ini, yang saya baca berdasarkan dokumen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Konteks agama - Merupakan ujud dari iman dan sekaligus devosi Umat Katolik ditunjukan pengiring perempuan (12 orang).

2. Konteks kebangsaan – Merupakan spirit dari Bhinneka Tunggal Ika yang ditunjukkan melalui berbagai pakaian adat dari 32 provinsi di luar Papua dan Papua Barat (32 orang).

3. Konteks Persaudaraan–Ke-32 orang berpakaian adat dari 32 provinsi ini mengunjungi Saudara Satu Tanah Air ke Papua. 

4. Konteks Entertainment – Penyerahan itu menjadi tontonan bangsa Indonesia dan konsumsi media Luar Negeri tentang ragam budaya. Oleh karena itu liputan juga mengundang media luar negeri. Hal ini juga menjelaskan bagaimana pemerintah Indonesia mengelola isu Papua yang dipandang negatif oleh dunia internasional.

5. Konteks Olahraga PON secara tidak langsung tidak hanya menjadi liputan menarik bagi media nasional tetapi juga bagi media luar negeri.

“Saya heran bagaimana bapa uskup dua memainkan peran yang luar biasa atas nama agama katolik yang kita sama-sama anut pada belakangan ini. Mau apakah gereja katolik di tanah Papua, kalau kita menggembalakan umat penuh dengan kepentingan politik ideologis? Bagaimana nanti, nasib dan masa depan kami, umat katolik di tanah Papua, baik pribumi Papua maupun migran di Papua kalau misi kaarya keselamatan Allah di bumi disangkutpautkan dengan kepentingan politik ideologis dan ekonomi?"

“….Mohon maaf sekaligus mohon ijin untuk saya pakai kata "kamu" untuk bapa berdua. ’Kamu‘mau arahkan kita kemana bapa uskup dua yang terhormat dan yang saya cintai? Tolong, jangan membingungkan, dan meembuat kami bertanya-tanya dengan agenda terselubung. Kami butuh gembala yang benar-benar ingin menyelamatkan kami. Bukan dia atau mereka yang hendak mengorbankan kami, umat katolik di tanah Papua dengan kepentingan politik ideologi dan ekonomi”.

Dengan ini, saya sebagai orang yang lahir besar secara katolik di tanah Papua dan berkembang senantiasa secara katolik di Indonesia, menolak dengan tegas agenda gereja yang dihubung-hubungkan dengan kepentingan politik ideologis, baik Indonesia harga mati ataupun Papua Merdeka menjelang momrntum PON 2021.  Saya menolak dengan tegas rute perjalanan kegiatan itu dengan alternatif pertama Jakarta  ke Jayapura dan alternatif kedua dari Jakarta-Manokwari-Timika-Merauke-Jayapura. 

Saya tidak tahu apa yang akan umat respon, bicarakan dan lakukan kalau sudah tahu atau kalau sudah membaca dokumen tersebut. Semoga tidak ada protes dan meningkatkan ketidakpercayaan umat terhadap bapa uskup dua, KWI dan lainnya. Tuhan memberkati "Bapa uskup dua?".  

Jayapura, 1 September 2021.

No comments:

Post a Comment