Search This Blog

Sunday, September 12, 2021

THE Pacific Conference of Churches deplores the treatment of Reverend Dr Benny Giay by Indonesian security forces


THE Pacific Conference of Churches deplores the treatment of Reverend Dr Benny Giay by Indonesian security forces in Jayapura on Monday. Reverend Dr Giay – a senior and respected member of the Papuan and Christian community – was treated like a common criminal when he did no more than attempt to pray at the offices of the Dewan Perwakilan Rakyat Papua (Papuan People’s Representative Council). 

The PCC is deeply saddened that the Indonesian security forces continue to disrespect Papuan leaders and people, despite the Special Law on Autonomy for West Papua. Enacted in 2001 and renewed this year without consultation, the law was supposedly designed to enshrine the values and ideals of the indigenous population and provide them justice and equitable treatment. 

Reverend Dr Giay is Chair of the Kingmi Synod in Papua and Moderator of the West Papua Council of Churches. He deserves to be treated with respect – not because of his position, but for the fact that Indonesian Special Law 21 on the Autonomy for West Papua. 

The treatment of Rev Dr Giay shows that despite its own laws, Indonesia treats the people of Papua unjustly, undemocratically and inhumanely. Pacific governments must address this issue with Indonesia which wants to become part of the regional community through its many development agencies. 

 The PCC calls on Indonesia to end the cruel and violent treatment of Papuans by its security forces. The PCC also calls for the release from detention of Victor Yeimo, Chairman of the Komite Nasional Barat Papua and urges that he be treated with dignity and justice. #freepapua #PapuaMerdeka #justice #PapuanLivesMatter #pcc

Friday, September 10, 2021

Start where you are, and do what you can.

Start where you are, and do what you can. Make use of what you have, in the time available to you, and there's much you can get done.

Let go of any concerns about not having enough time, or money, resources or anything else. Focus instead on the great value and potential of what you do have and of what you can do right now.

#FreeWestPapua
✊❤️🖤💚 ✊

Thursday, September 9, 2021

Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi

Matius 21:9 (TB) Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"

Tuesday, September 7, 2021

West Papuan churches call for UN to come to Papua

About RNZ Pacific
PACIFIC WEST PAPUA19 Apr 2021

The West Papua Council of Churches has called on the United Nations to intervene in what it describes as a humanitarian tragedy in Indonesia's Papua region.

Christian faith in West Papua.Christian faith in West Papua. Photo: Johnny Blades / RNZ Pacific
This comes amid more violence in the highlands of Papua province, with two school teachers shot dead last week in Puncak district.

The West Papua Liberation Army claimed responsibility for at least one of the killings, saying the teacher was an Indonesian spy.

Indonesian military and police have evacuated a number of residents as they pursue the Liberation Army's guerilla fighters and supporters.

Thousands of villagers in this region have been displaced by violence between Indonesian security forces and the rebel group since it escalated two years ago.

Earlier this year, researchers said the vast majority of internally displaced people in West Papua originated from Nduga Regency where the armed conflict intensified two years ago.

About 8,000 of them have sought shelter in neighbouring Jayawijaya Regency.

Since then, according to solidarity groups, 400 displaced Papuans have died in Jayawijaya due to diseases and other strains.

The churches are urging the Office of the UN Commissioner for Human Rights to send a humanitarian team to Papua to investigate the condition of internally displaced people who are struggling to meet health, education and other basic needs.

They have also called for the Commissioner for Human Rights to visit Papua and carry out an investigation of human rights violations in Papua, as well as to monitor the thousands of military and police personnel deployed to Papua since August 2019.

In the past few years, the Commissioner repeatedly requested access to Papua, but Jakarta's expressions of willingness have yet to materialise in a visit, although the pandemic has been an added obstacle.

The West Papuan church leaders who signed the letter are Pastor Dorman Wandikbo of the Indonesian Evangelical Church, Reverend Benny Giay of the Kemah Injil Church, Rev. Andrikus Mofu, the Chairman of the Evangelical Christian Church, and Rev. Socratez Sofyan Yoman, the President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua.

Call for UN Council to look at Jakarta's Special Autonomy moves
The church leaders also called for serious attention from the UN Human Rights Council to moves by the Indonesian government to extend implementation of the 2001 Papua Special Autonomy Law which expires this year.

Many Papuans have voiced objections to Jakarta's plans for Special Autonomy Volume 2 with its aims of expanding civilian infrastructure, division of provinces and districts, and strengthening of security force bases in West Papua.

"The granting of Special Autonomy and the expansion of civilian and military infrastructure is a camouflage to hide the occupation of the Land of Papua for the benefit of exploiting natural resources," the church leaders said.

"To date 750,000 Melanesians have signed the Petition Against Special Autonomy for Papua Volume 2 and have demanded the right to self-determination."

The church leaders have condemned violence in Papua.

"We express our deep condolences over the shooting of two teachers in Beoga, Puncak Regency, Papua.

"At the same time, we are also concerned about the cooperation between the Papua Provincial Education Office and the Security Forces which allows the Army and Police to teach in civilian schools as part of the effort to label the Papuan National Liberation Resistance Organization (TPN / OPM) as terrorists.

© Copyright Radio New Zealand 2021

Sunday, September 5, 2021

Dr Peyon: VISI WEST PAPUA HIJAU (GREEN STATE VISION )

Oleh Ibrahim Peyon, Ph. D

Green State Vision WEST PAPUA adalah sebuah visi untuk masa depan orang Papua, Indonesia, Pasifik dan umat manusia di seluruh dunia. Green State Vision hadir untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang mengancam umat manusia secara global dan planet bumi kita ini. Perubahan iklim membawa dampak yang serius secara global bagi eksistensi umat manusia di planet bumi ini. 

Aktivitas manusi meningkat dengan tidak rama lingkungan alam, meningkatnya produksi ekonomi kapitalis, revolusi industri dan teknologi berkontribusi meningkatkan suhu kepanasan bumi secara global. Suhu kepanasan bumi mengakibatkan telah mengalami kekeringan, kebakaran, kebanjiran, longsor, sunamik dimana-mana yang mengancam eksistensi manusia, mahluk hidup dan alam. Dalam rangka mengatasi tantangan perubahan iklim global tersebut, bangsa Papua muncul dengan Green State Vision West Papua sebagai solusi untuk memberikan garansi bagi kehidupan manusia, mahluk hidup lain, alam semesta dan keselamatan planet bumi ini.

Green State Vision WEST PAPUA adalah; VISI PAPUA DAMAI dan HARMONI sebagai berikut: 

(1). Green State Vision adalah Visi kedamaian manusia, damai dalam keluarga, damai dengan sesama, damai dengan tetangga, damai di antara etnik, damai dengan bangsa lain, dan damai dengan musuh.

(2). Green State Vision adalah visi damai manusia dengan Tuhan, damai manusia dengan roh, damai manusia dengan roh leluhur, damai manusia dengan kekuatan atau kepercayaan lain di tanah Papua.

(3). Green State Vision adalah Visi kedamaian Alam dan Lingkungan, kedamaian tanah, kedamaian hutan, kedamaian sungai dan laut, kedamaian gunung, kedamaian dan kenyamanan iklim, suhu dan udara. Damai dengan lingkungan dan kebersihannya.

(4). Green State Vision adalah Visi kedamaian vauna atau hewan, kedamaian burung-burung, reptilia, mamalia, Insekta, dan berbagai jenis hewan lain.

(5). Green State Vision adalah Visi kedamaian antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan roh leluhur dan antara manusia dengan kekuatan lain yang dihuni di alam sekitar.

(6). Green State Vision adalah dimana bentuk dan struktur bangunan hijau yang damai dan nyaman. Green State Vision berarti menolak struktur bangunan republik, dominion, kerajaan, serikat dan semua jenis konstruksi lain dari luar.

(7). Green State Vision memiliki filsafat yang hijau, ideologi yang hijau dan damai, pandangan yang hijau dan damai, kepercayaan yang hijau dan damai, perspektif yang hijau dan damai. Dengan demikian Green State Vision menolak ideologi kapitalisme, ideologi sosialisme, dan ideologi lain dari luar yang merusak eksistensi Manusia, mahluk lain dan alam.

(8). Green State Vission adalah visi ekonomi hijau, fiskal hijau, moneter hijau, pengelolaan sumber daya alam hijau, pembangunan ekonomi dan insfrastruktur hijau, dan pembangunan industri hijau. 
  
Green State Vision adalah visi dimana manusia berdamai dengan Tuhan, dirinya sendiri dan alam lingkungannya. Dimana manusia tidak merusak ciptaan lain, tidak memusuhi dan merusak sesama manusia dengan alasan apa pun, manusia tidak merusak dan menggali gunung berlebihan, tidak merusak dan mencemari sungai dan laut dengan merusak ekosistem, menghormati, mengakui, menjaga dan melindungi hak tanah atas kepemilikan perorangan, klen, sub suku dan suku bangsa. Menjaga, melindungi dan mengakui diversitas etnik, kultur, dan ekologi di West Papua. Manusia tidak merusak hutan, menjaga dan melindungi hak hidup flora dan vauna. Manusia menggunakannya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk masa depan generasi.

Dengan Green State Vision dapat menciptakan kedamaian dunia, keberlanjutan dunia, keselamatan manusia di dunia, dan keselamatan planet bumi. Green State Vision dapat mewujudkan Papua sebagai paru-paru dunia untuk menghasilkan oksigen bagi manusia dan nafas planet bumi dari kematian.

Green State Vision adalah visi dan misi yang berasal dari filsafat asli Papua dan Melanesia. Filsafat hidup yang sudah ada di sini dan dipraktikkan dan diaktualisasikan oleh orang Papua sejak leluhur, sejak mereka ditempatkan di tanah ini. Green State Vision adalah roh, jiwa dan budaya orang Papua dan bangsa Melanesia di tanah ini, dan falsafah itu diwujudkan dalam visi besar, “Green State Vision WEST PAPUA”.

#WestPapua #GreenState #GreenStateVision

Thursday, September 2, 2021

SURAT TERBUKA KEPADA KARDINAL IGNATIUS SUHARYO DAN USKUP JAYAPURA

"Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus tolong kami. Saya sangat gelisah, Tuhan.”

Perihal  : Mengingatkan agar mempertimbangkan kembali.

Dari   : Soleman Itlay—Umat Katolik di Tanah Papua.

Alamat  : Sementara saya tinggal di kota Jayapura.

Gmail  : dani.tribesman@gmail.com.

Ditujukan secara khusus kepada Yang Mulia:

1. Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Ketua Konference Waligereja Indonesia (KWI) di Jakarta.

2. Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM di Jayapura.

3. Semua pihak terkait.

Salam hormat dan salam damai Tuhan Yesus Kristus dari saya, Soleman Itlay.  Semoga bapa uskup dua sehat-sehat dan baik-baik selalu. Wa wa wa. 

Hallo… Bapa Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Bapa Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. Saya sudah baca dokumen yang bapa berdua sedang merancang sebuah kegiatan “Penyerahan dua patung Bunda Maria yakni Maria Bunda Yesus – Bunda Papua Tanah Damai dan Maria Bunda Segala Suku” yang dianggap momentum bersejarah “secara diam-diam”. Katanya, seperti yang tertulis—kegiatan ini akan berlangsung menjelang atau pasca pelaksanaan PON 2021 di tanah Papua untuk menarik perhatian dunia internasional menyangkut  situasi “politik dan pelanggaran HAM di tanah Papua?”. 

Bapa uskup dua, saya telah menerima dokumen “rahasia” pada hari ini, Rabu, 1 September 2021 pada pukul 16:39 WIT. Saya katakan dokumen rahasia karena kegiatan tersebut hendak diwujudkan dalam waktu dekat, tetapi umat katolik di tanah Papua tidak tahu sama sekali. Yang ada dan terkesan dalam dokumen berjudul “Patung Proposal” itu hanya diprakarsai oleh satu dua orang atau kelompok tertentu untuk menarik perhatian dunia internasional di samping hendak menunjukkan kebhinekaan Indonesia di atas tanah Papua yang kini menjadi milik para pemuka negara—bukan orang asli Papua lagi—dll. 

Adapun makna dari momentum ini, yang saya baca berdasarkan dokumen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Konteks agama - Merupakan ujud dari iman dan sekaligus devosi Umat Katolik ditunjukan pengiring perempuan (12 orang).

2. Konteks kebangsaan – Merupakan spirit dari Bhinneka Tunggal Ika yang ditunjukkan melalui berbagai pakaian adat dari 32 provinsi di luar Papua dan Papua Barat (32 orang).

3. Konteks Persaudaraan–Ke-32 orang berpakaian adat dari 32 provinsi ini mengunjungi Saudara Satu Tanah Air ke Papua. 

4. Konteks Entertainment – Penyerahan itu menjadi tontonan bangsa Indonesia dan konsumsi media Luar Negeri tentang ragam budaya. Oleh karena itu liputan juga mengundang media luar negeri. Hal ini juga menjelaskan bagaimana pemerintah Indonesia mengelola isu Papua yang dipandang negatif oleh dunia internasional.

5. Konteks Olahraga PON secara tidak langsung tidak hanya menjadi liputan menarik bagi media nasional tetapi juga bagi media luar negeri.

“Saya heran bagaimana bapa uskup dua memainkan peran yang luar biasa atas nama agama katolik yang kita sama-sama anut pada belakangan ini. Mau apakah gereja katolik di tanah Papua, kalau kita menggembalakan umat penuh dengan kepentingan politik ideologis? Bagaimana nanti, nasib dan masa depan kami, umat katolik di tanah Papua, baik pribumi Papua maupun migran di Papua kalau misi kaarya keselamatan Allah di bumi disangkutpautkan dengan kepentingan politik ideologis dan ekonomi?"

“….Mohon maaf sekaligus mohon ijin untuk saya pakai kata "kamu" untuk bapa berdua. ’Kamu‘mau arahkan kita kemana bapa uskup dua yang terhormat dan yang saya cintai? Tolong, jangan membingungkan, dan meembuat kami bertanya-tanya dengan agenda terselubung. Kami butuh gembala yang benar-benar ingin menyelamatkan kami. Bukan dia atau mereka yang hendak mengorbankan kami, umat katolik di tanah Papua dengan kepentingan politik ideologi dan ekonomi”.

Dengan ini, saya sebagai orang yang lahir besar secara katolik di tanah Papua dan berkembang senantiasa secara katolik di Indonesia, menolak dengan tegas agenda gereja yang dihubung-hubungkan dengan kepentingan politik ideologis, baik Indonesia harga mati ataupun Papua Merdeka menjelang momrntum PON 2021.  Saya menolak dengan tegas rute perjalanan kegiatan itu dengan alternatif pertama Jakarta  ke Jayapura dan alternatif kedua dari Jakarta-Manokwari-Timika-Merauke-Jayapura. 

Saya tidak tahu apa yang akan umat respon, bicarakan dan lakukan kalau sudah tahu atau kalau sudah membaca dokumen tersebut. Semoga tidak ada protes dan meningkatkan ketidakpercayaan umat terhadap bapa uskup dua, KWI dan lainnya. Tuhan memberkati "Bapa uskup dua?".  

Jayapura, 1 September 2021.