Search This Blog

Tuesday, October 5, 2021

Penglihatan Seorang Hamba Tuhan tentang Papua Merdeka 2016-2021

Pada thn 2016 dalam doa 10 hari di jemaat kami,,Gpdi Alfa-Omega,, Sarmi,, Saya di ingatkan Tuhan,, harus dirikan Bait Allah di tanah Papua,, karena yg sekarang sudah Rusak,, dan menjadi tempat penyembahan berhala....

Dari 2016-2018 saya selalu jalan kemana saja,, saya pergi saya selalu teringat dgn kata" itu. terus di thn 2016 saya tidur malam,, Tuhan perlihatkan saya tentang pulau papua ini,, sudah terangkat tinggi dari semua pulau" dan kota yg ada di indonesia,, dan hanya satu tongkat yg menopannya,, dan di thn yg sama juga dalam doa Saya melihat peta indonesia dan ada ular besar,, yg membentang dari jakarta ke papua,, dan ada suara yg berkata Hanya 

Dengan doa,, maka ular ini akan pindah,
dan disitu juga saya melihat banyak pendoa,, yg berdoa untuk memutuskan kuasa ular itu,, akhirnya kepala ular itu berbalik ke arah jakarta... 
banyak lagi hal" baik tentang papua,, yg saya lihat...

Dan terjadi lagi manifestasi kuasa Roh-Kudus,, pada diri ku,, thn 2020 ketika saya ada di jemaat Elsaday Makasar,, saya di perlihatkan tiga pintu,, satu pintu sudah di buka tinggal 2 pintu,, dan pintu yg di sebelah timur itu,, Papua dan di situ,, juga saya lihat bahwa satu orang papua.. pakai pakaian batik papua,, dan di mahkotai cendrawasih,, dan ada suara yg berkata berdoa untuk dia,, Namanya Benny tetapi,, tidak di kasihtau marganya,, 
dan di situ saya kasitau Gembala saya beserta seluruh teman" hamba Tuhan,, tetapi mereka tidak,, percaya. saya bilang tidak lama lagi papua akan terlepas/ pisah dari indonesia,, karena tiga pintu,, yg satu Timor-Timor terus Papua dan tidak tau satu pintunya lagi,, 

Pesan bukan manusia yg melepaskan papua,, Tuhanlah yg berjalan di tanah papua,, untuk melepaskannya..

God blls u familly

Pdt. Matius Gombo: Bacaan kita hari ini, Matius 6:6-7

Wamena,6 Otober 2021
MEZBAH DOA PAGI
Pk 00. 00 WIT
Oleh, Pdt.Matius Gombo

Syalom, Salam subu 
Bacaan kita hari ini, Matius 6:6-7 

Ayat 6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Ayat 7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Yesus Pesan Untuk Kita Berdoa, (6)
1. Bangun mezbah doa pribadi 
     - Memuji dan menyembah Allah
     - Berdoa
     - Membaca Firman TUHAN dan merenungkan

2. Menyediakan ruang dan waktu (6)
     - Bersekutu dengan Tuhan
     - Tempat yang aman
     - Fokus hubungan pribadi dengan Tuhan

3. Berdoa dengan benar (5,7)
     - Janganlah Berdoa seperti orang munafik (5)
      - Janganlah bertele-tele seperti ... orang yang tidak mengenal Allah (7)

K a r e n a
Tuhan melihat seseorang berdoa dengan kesungguhan dan mengabulkan-Nya ayat 7-8

Selamat malam
Selamat B E R D O A
Tuhan Yesus memberkati

Sunday, October 3, 2021

GEREJA MEMBISU DAN DIAM YANG MEMELIHARA KEJAHATAN NEGARA DI PAPUA

Beberapa gereja di Papua hidup dan melayani tanpa roh keadilan dan kebenaran. Gereja hanya menghibur diri di mimbar-mimbar setiap minggu dengan ayat-ayat Firman Tuhan. Gereja-gereja tidak percaya bersuara tentang kekerasan Negara, rasisme dan ketidakadilan. Gereja-gereja di mimbar rajin dan setia berdoa untuk pemerintah dari pusat sampai di desa-desa. Gereja-gereja berdoa untuk presiden sampai kepala desa. 

Tapi, gereja lupa berdoa TPN-PB (OPM), ULMWP, KNPB. Bahkan ada gereja yang secara lantang dan terbuka dari mimbar mengutuk Papua Merdeka, ULMWP, TPN-PB (OPM), KNPB. 

Gereja tidak pernah menentang stigma seperatis, makar, opm, kkb, dan teroris yang jelas-jelas merendahkan martabat kemanusiaan yang diciptakan TUHAN (Kejadian 1:26). Gereja menjadi pendoa syafaat yang hebat untuk NKRI harga mati. Gereja yang hidup tanpa Roh Kudus dan Kuasa Yesus Kristus. Gereja di Papua tidak menghadirkan Kerajaan Allah di Papua. Gereja menghadirkan kerajaan manusia. 

Beberapa Gereja di Papua harus bertobat dan berubah untuk melihat dan melayani umat TUHAN seperti Tuhan Yesus Kristus mengasihi dan menyelamatkan kita. 

Gereja membisu, diam dan telinga tuli serta mata buta berarti gereja turut memelihara kekerasan, ketidakadilan, rasisme, kolonialisme, kapitalisme, militerisme dan pasisme. Gereja tidak menjadi terang dan garam dunia. 

Gembala Dr. Socrarez Yoman 

Tabi, 3 Oktober 2021.

A woman was once asked:What do you "gain" from praying to God regularly?

She replied:
Usually ′′ I don't earn anything ", but rather ′′ I lose things ".
And she quoted everything she lost praying to God regularly:
I lost my pride.
I lost my arrogance.
I lost greed.
I lost my urge.
I lost ′′ my ′′ anger.
I lost the lust.
I lost the pleasure of lying.
I lost the taste of sin.
I lost impatience, despair, and
 discouragement.

Sometimes we pray, not to gain something, but to lose things that don't allow us to grow spiritually.

Prayer educates, strengthens, and heals.

Prayer is the channel that connects us directly to God."

❤️

Saturday, October 2, 2021

Mezbah Doa pagi oleh Pdt.Matius Gombo

Wamena, 2 Otober 2021
MEZBAH DOA PAGI
Pk 05. 00 WIT
Oleh, Pdt.Matius Gombo

Syalom, Salam subu 
Bacaan kita hari ini, Yohanes 17:20 “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:20-21 

Ada tiga poin Yesus Berdoa
1. Berdoa untuk ke-12 murid
2. Berdoa untuk hasil pelayanan murid (orang percaya)
3. Tujuan Yesus berdoa agar semua orang percaya BERSATU

Doa Tuhan Yesus adalah agar kita semua menjadi satu seperti Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa, kita juga ada di dalam Dia

Dengan demikian dunia akan percaya bahwa Yesus adalah anak Allah yang hidup.

Marilah kita DOAKAN buat bapa ibu saudara/i, keluarga, teman Pelayan, atasan dan bawahan dan orang lain agar BERSATU dalam Tuhan.

Selamat pagi
Selamat melayani
Tuhan Yesus memberkati

Sunday, September 12, 2021

THE Pacific Conference of Churches deplores the treatment of Reverend Dr Benny Giay by Indonesian security forces


THE Pacific Conference of Churches deplores the treatment of Reverend Dr Benny Giay by Indonesian security forces in Jayapura on Monday. Reverend Dr Giay – a senior and respected member of the Papuan and Christian community – was treated like a common criminal when he did no more than attempt to pray at the offices of the Dewan Perwakilan Rakyat Papua (Papuan People’s Representative Council). 

The PCC is deeply saddened that the Indonesian security forces continue to disrespect Papuan leaders and people, despite the Special Law on Autonomy for West Papua. Enacted in 2001 and renewed this year without consultation, the law was supposedly designed to enshrine the values and ideals of the indigenous population and provide them justice and equitable treatment. 

Reverend Dr Giay is Chair of the Kingmi Synod in Papua and Moderator of the West Papua Council of Churches. He deserves to be treated with respect – not because of his position, but for the fact that Indonesian Special Law 21 on the Autonomy for West Papua. 

The treatment of Rev Dr Giay shows that despite its own laws, Indonesia treats the people of Papua unjustly, undemocratically and inhumanely. Pacific governments must address this issue with Indonesia which wants to become part of the regional community through its many development agencies. 

 The PCC calls on Indonesia to end the cruel and violent treatment of Papuans by its security forces. The PCC also calls for the release from detention of Victor Yeimo, Chairman of the Komite Nasional Barat Papua and urges that he be treated with dignity and justice. #freepapua #PapuaMerdeka #justice #PapuanLivesMatter #pcc

Friday, September 10, 2021

Start where you are, and do what you can.

Start where you are, and do what you can. Make use of what you have, in the time available to you, and there's much you can get done.

Let go of any concerns about not having enough time, or money, resources or anything else. Focus instead on the great value and potential of what you do have and of what you can do right now.

#FreeWestPapua
✊❤️🖤💚 ✊

Thursday, September 9, 2021

Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi

Matius 21:9 (TB) Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"

Tuesday, September 7, 2021

West Papuan churches call for UN to come to Papua

About RNZ Pacific
PACIFIC WEST PAPUA19 Apr 2021

The West Papua Council of Churches has called on the United Nations to intervene in what it describes as a humanitarian tragedy in Indonesia's Papua region.

Christian faith in West Papua.Christian faith in West Papua. Photo: Johnny Blades / RNZ Pacific
This comes amid more violence in the highlands of Papua province, with two school teachers shot dead last week in Puncak district.

The West Papua Liberation Army claimed responsibility for at least one of the killings, saying the teacher was an Indonesian spy.

Indonesian military and police have evacuated a number of residents as they pursue the Liberation Army's guerilla fighters and supporters.

Thousands of villagers in this region have been displaced by violence between Indonesian security forces and the rebel group since it escalated two years ago.

Earlier this year, researchers said the vast majority of internally displaced people in West Papua originated from Nduga Regency where the armed conflict intensified two years ago.

About 8,000 of them have sought shelter in neighbouring Jayawijaya Regency.

Since then, according to solidarity groups, 400 displaced Papuans have died in Jayawijaya due to diseases and other strains.

The churches are urging the Office of the UN Commissioner for Human Rights to send a humanitarian team to Papua to investigate the condition of internally displaced people who are struggling to meet health, education and other basic needs.

They have also called for the Commissioner for Human Rights to visit Papua and carry out an investigation of human rights violations in Papua, as well as to monitor the thousands of military and police personnel deployed to Papua since August 2019.

In the past few years, the Commissioner repeatedly requested access to Papua, but Jakarta's expressions of willingness have yet to materialise in a visit, although the pandemic has been an added obstacle.

The West Papuan church leaders who signed the letter are Pastor Dorman Wandikbo of the Indonesian Evangelical Church, Reverend Benny Giay of the Kemah Injil Church, Rev. Andrikus Mofu, the Chairman of the Evangelical Christian Church, and Rev. Socratez Sofyan Yoman, the President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua.

Call for UN Council to look at Jakarta's Special Autonomy moves
The church leaders also called for serious attention from the UN Human Rights Council to moves by the Indonesian government to extend implementation of the 2001 Papua Special Autonomy Law which expires this year.

Many Papuans have voiced objections to Jakarta's plans for Special Autonomy Volume 2 with its aims of expanding civilian infrastructure, division of provinces and districts, and strengthening of security force bases in West Papua.

"The granting of Special Autonomy and the expansion of civilian and military infrastructure is a camouflage to hide the occupation of the Land of Papua for the benefit of exploiting natural resources," the church leaders said.

"To date 750,000 Melanesians have signed the Petition Against Special Autonomy for Papua Volume 2 and have demanded the right to self-determination."

The church leaders have condemned violence in Papua.

"We express our deep condolences over the shooting of two teachers in Beoga, Puncak Regency, Papua.

"At the same time, we are also concerned about the cooperation between the Papua Provincial Education Office and the Security Forces which allows the Army and Police to teach in civilian schools as part of the effort to label the Papuan National Liberation Resistance Organization (TPN / OPM) as terrorists.

© Copyright Radio New Zealand 2021

Sunday, September 5, 2021

Dr Peyon: VISI WEST PAPUA HIJAU (GREEN STATE VISION )

Oleh Ibrahim Peyon, Ph. D

Green State Vision WEST PAPUA adalah sebuah visi untuk masa depan orang Papua, Indonesia, Pasifik dan umat manusia di seluruh dunia. Green State Vision hadir untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang mengancam umat manusia secara global dan planet bumi kita ini. Perubahan iklim membawa dampak yang serius secara global bagi eksistensi umat manusia di planet bumi ini. 

Aktivitas manusi meningkat dengan tidak rama lingkungan alam, meningkatnya produksi ekonomi kapitalis, revolusi industri dan teknologi berkontribusi meningkatkan suhu kepanasan bumi secara global. Suhu kepanasan bumi mengakibatkan telah mengalami kekeringan, kebakaran, kebanjiran, longsor, sunamik dimana-mana yang mengancam eksistensi manusia, mahluk hidup dan alam. Dalam rangka mengatasi tantangan perubahan iklim global tersebut, bangsa Papua muncul dengan Green State Vision West Papua sebagai solusi untuk memberikan garansi bagi kehidupan manusia, mahluk hidup lain, alam semesta dan keselamatan planet bumi ini.

Green State Vision WEST PAPUA adalah; VISI PAPUA DAMAI dan HARMONI sebagai berikut: 

(1). Green State Vision adalah Visi kedamaian manusia, damai dalam keluarga, damai dengan sesama, damai dengan tetangga, damai di antara etnik, damai dengan bangsa lain, dan damai dengan musuh.

(2). Green State Vision adalah visi damai manusia dengan Tuhan, damai manusia dengan roh, damai manusia dengan roh leluhur, damai manusia dengan kekuatan atau kepercayaan lain di tanah Papua.

(3). Green State Vision adalah Visi kedamaian Alam dan Lingkungan, kedamaian tanah, kedamaian hutan, kedamaian sungai dan laut, kedamaian gunung, kedamaian dan kenyamanan iklim, suhu dan udara. Damai dengan lingkungan dan kebersihannya.

(4). Green State Vision adalah Visi kedamaian vauna atau hewan, kedamaian burung-burung, reptilia, mamalia, Insekta, dan berbagai jenis hewan lain.

(5). Green State Vision adalah Visi kedamaian antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan roh leluhur dan antara manusia dengan kekuatan lain yang dihuni di alam sekitar.

(6). Green State Vision adalah dimana bentuk dan struktur bangunan hijau yang damai dan nyaman. Green State Vision berarti menolak struktur bangunan republik, dominion, kerajaan, serikat dan semua jenis konstruksi lain dari luar.

(7). Green State Vision memiliki filsafat yang hijau, ideologi yang hijau dan damai, pandangan yang hijau dan damai, kepercayaan yang hijau dan damai, perspektif yang hijau dan damai. Dengan demikian Green State Vision menolak ideologi kapitalisme, ideologi sosialisme, dan ideologi lain dari luar yang merusak eksistensi Manusia, mahluk lain dan alam.

(8). Green State Vission adalah visi ekonomi hijau, fiskal hijau, moneter hijau, pengelolaan sumber daya alam hijau, pembangunan ekonomi dan insfrastruktur hijau, dan pembangunan industri hijau. 
  
Green State Vision adalah visi dimana manusia berdamai dengan Tuhan, dirinya sendiri dan alam lingkungannya. Dimana manusia tidak merusak ciptaan lain, tidak memusuhi dan merusak sesama manusia dengan alasan apa pun, manusia tidak merusak dan menggali gunung berlebihan, tidak merusak dan mencemari sungai dan laut dengan merusak ekosistem, menghormati, mengakui, menjaga dan melindungi hak tanah atas kepemilikan perorangan, klen, sub suku dan suku bangsa. Menjaga, melindungi dan mengakui diversitas etnik, kultur, dan ekologi di West Papua. Manusia tidak merusak hutan, menjaga dan melindungi hak hidup flora dan vauna. Manusia menggunakannya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk masa depan generasi.

Dengan Green State Vision dapat menciptakan kedamaian dunia, keberlanjutan dunia, keselamatan manusia di dunia, dan keselamatan planet bumi. Green State Vision dapat mewujudkan Papua sebagai paru-paru dunia untuk menghasilkan oksigen bagi manusia dan nafas planet bumi dari kematian.

Green State Vision adalah visi dan misi yang berasal dari filsafat asli Papua dan Melanesia. Filsafat hidup yang sudah ada di sini dan dipraktikkan dan diaktualisasikan oleh orang Papua sejak leluhur, sejak mereka ditempatkan di tanah ini. Green State Vision adalah roh, jiwa dan budaya orang Papua dan bangsa Melanesia di tanah ini, dan falsafah itu diwujudkan dalam visi besar, “Green State Vision WEST PAPUA”.

#WestPapua #GreenState #GreenStateVision

Thursday, September 2, 2021

SURAT TERBUKA KEPADA KARDINAL IGNATIUS SUHARYO DAN USKUP JAYAPURA

"Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus tolong kami. Saya sangat gelisah, Tuhan.”

Perihal  : Mengingatkan agar mempertimbangkan kembali.

Dari   : Soleman Itlay—Umat Katolik di Tanah Papua.

Alamat  : Sementara saya tinggal di kota Jayapura.

Gmail  : dani.tribesman@gmail.com.

Ditujukan secara khusus kepada Yang Mulia:

1. Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Ketua Konference Waligereja Indonesia (KWI) di Jakarta.

2. Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM di Jayapura.

3. Semua pihak terkait.

Salam hormat dan salam damai Tuhan Yesus Kristus dari saya, Soleman Itlay.  Semoga bapa uskup dua sehat-sehat dan baik-baik selalu. Wa wa wa. 

Hallo… Bapa Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Bapa Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. Saya sudah baca dokumen yang bapa berdua sedang merancang sebuah kegiatan “Penyerahan dua patung Bunda Maria yakni Maria Bunda Yesus – Bunda Papua Tanah Damai dan Maria Bunda Segala Suku” yang dianggap momentum bersejarah “secara diam-diam”. Katanya, seperti yang tertulis—kegiatan ini akan berlangsung menjelang atau pasca pelaksanaan PON 2021 di tanah Papua untuk menarik perhatian dunia internasional menyangkut  situasi “politik dan pelanggaran HAM di tanah Papua?”. 

Bapa uskup dua, saya telah menerima dokumen “rahasia” pada hari ini, Rabu, 1 September 2021 pada pukul 16:39 WIT. Saya katakan dokumen rahasia karena kegiatan tersebut hendak diwujudkan dalam waktu dekat, tetapi umat katolik di tanah Papua tidak tahu sama sekali. Yang ada dan terkesan dalam dokumen berjudul “Patung Proposal” itu hanya diprakarsai oleh satu dua orang atau kelompok tertentu untuk menarik perhatian dunia internasional di samping hendak menunjukkan kebhinekaan Indonesia di atas tanah Papua yang kini menjadi milik para pemuka negara—bukan orang asli Papua lagi—dll. 

Adapun makna dari momentum ini, yang saya baca berdasarkan dokumen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Konteks agama - Merupakan ujud dari iman dan sekaligus devosi Umat Katolik ditunjukan pengiring perempuan (12 orang).

2. Konteks kebangsaan – Merupakan spirit dari Bhinneka Tunggal Ika yang ditunjukkan melalui berbagai pakaian adat dari 32 provinsi di luar Papua dan Papua Barat (32 orang).

3. Konteks Persaudaraan–Ke-32 orang berpakaian adat dari 32 provinsi ini mengunjungi Saudara Satu Tanah Air ke Papua. 

4. Konteks Entertainment – Penyerahan itu menjadi tontonan bangsa Indonesia dan konsumsi media Luar Negeri tentang ragam budaya. Oleh karena itu liputan juga mengundang media luar negeri. Hal ini juga menjelaskan bagaimana pemerintah Indonesia mengelola isu Papua yang dipandang negatif oleh dunia internasional.

5. Konteks Olahraga PON secara tidak langsung tidak hanya menjadi liputan menarik bagi media nasional tetapi juga bagi media luar negeri.

“Saya heran bagaimana bapa uskup dua memainkan peran yang luar biasa atas nama agama katolik yang kita sama-sama anut pada belakangan ini. Mau apakah gereja katolik di tanah Papua, kalau kita menggembalakan umat penuh dengan kepentingan politik ideologis? Bagaimana nanti, nasib dan masa depan kami, umat katolik di tanah Papua, baik pribumi Papua maupun migran di Papua kalau misi kaarya keselamatan Allah di bumi disangkutpautkan dengan kepentingan politik ideologis dan ekonomi?"

“….Mohon maaf sekaligus mohon ijin untuk saya pakai kata "kamu" untuk bapa berdua. ’Kamu‘mau arahkan kita kemana bapa uskup dua yang terhormat dan yang saya cintai? Tolong, jangan membingungkan, dan meembuat kami bertanya-tanya dengan agenda terselubung. Kami butuh gembala yang benar-benar ingin menyelamatkan kami. Bukan dia atau mereka yang hendak mengorbankan kami, umat katolik di tanah Papua dengan kepentingan politik ideologi dan ekonomi”.

Dengan ini, saya sebagai orang yang lahir besar secara katolik di tanah Papua dan berkembang senantiasa secara katolik di Indonesia, menolak dengan tegas agenda gereja yang dihubung-hubungkan dengan kepentingan politik ideologis, baik Indonesia harga mati ataupun Papua Merdeka menjelang momrntum PON 2021.  Saya menolak dengan tegas rute perjalanan kegiatan itu dengan alternatif pertama Jakarta  ke Jayapura dan alternatif kedua dari Jakarta-Manokwari-Timika-Merauke-Jayapura. 

Saya tidak tahu apa yang akan umat respon, bicarakan dan lakukan kalau sudah tahu atau kalau sudah membaca dokumen tersebut. Semoga tidak ada protes dan meningkatkan ketidakpercayaan umat terhadap bapa uskup dua, KWI dan lainnya. Tuhan memberkati "Bapa uskup dua?".  

Jayapura, 1 September 2021.

Friday, August 20, 2021

Press Release: Pastor Dr. Socratez S. Yoman, MA, President of the Fellowship of Baptist Churches in West Papua

The reality or fact is that now we live under an Indonesian ruler who is anti-democratic, anti-justice, anti-freedom, anti-peace, anti-equality and anti-humanity. This is the real reflection of the face of the colonial rulers of Indonesia. The Indonesian rulers have lost their conscience, common sense, and have no creativity or innovation because it is now proven that the approach of using violence through state apparatus is their way to solve the problems of injustice and crimes against humanity in Papua. The state itself has created a stalemate and is now creating new problems that are increasingly complicated and spiralling out of control. 

The incident which took place on August 16, 2021, when Rev. Dr. Benny Giay, Chair of the Kingmi Synod in Papua and also Moderator of the West Papua Council of Churches (WPCC) was refused entry to the Papuan Peoples Representative building is a very embarrassing incident for the Indonesian police institution. Is this the face of the Indonesian police, the blockaders of a church leader who wanted to pray at the office of the Papuan people's representatives and also the blockaders of a peaceful demonstration of the Papuan people? 

The rejection of the KNPB demonstration to demand the release of Viktor Yeimo in Jayapura and in Yahukimo on August 16, 2021, which killed one person, shows that the police are not only unprofessional and uneducated, but that they are also violent and criminal. This kind of cruelty and violence by the security forces has led to an increase in the Papuan people's distrust of Indonesia. 

I strongly condemn the security forces in Yahukimo who killed one person in Yahukimo and injured the Chairman of KNPB, Agus Kosay and several KNPB members in Jayapura. 
Ita Wakhu Purom, August 16, 2021 
Contact Number : 08124888458

Thursday, August 19, 2021

Pdt. Benny Giay: OAP terus dipaksa menerima kepentingan Jakarta

Papua No.1 News Portal | Jubi Jayapura, Jubi - Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Pdt Dr Benny Giay berpendapat, hingga kini orang asli Papua (OAP) terus dipaksa menerima setiap kebijakan untuk kepentingan negara. 

Misalnya saja saat pemerintah merevisi Undang-Undang Otonomi Khusus atau Otsus Papua. Pemerintah dinilai memaksakan revisi sepihak. Tanpa persetujuan atau menutup ruang terhadap orang asli Papua. "Selain itu dalam menangani masalah Papua misalnya rasisme, tidak ditangani baik. Justru mengenakan pasal makar kepada orang Papua. Saya pikir, Indonesia tidak merasa terganggu karena OAP bisa terus dipaksa menerima kepentingan Jakarta," kata Pdt. Benny Giay kepada Jubi, Senin (16/8/2021). 


Katanya, ini tidak hanya berlaku terhadap warga sipil, aktivis, mahasiswa dan kelompok masyarakat di Papua. Pimpinan gereja seperti dirinyapun mengalami hal yang sama. Pdt. Benny Giay dihalangi aparat Polres Kota Jayapura saat akan bertemu anggota DPR Papua, untuk menyampaikan refleksi dan harapannya kepada wakil rakyat Papua, Senin (16/8/2021). 

Aparat keamanan menyampaikan beberapa alasan, sehingga tidak mengizinkan tokoh gereja di Papua bertemu anggota DPR Papua. Salah satunya, karena pada saat yang bersamaan ada agenda nasional di Kantor DPR Papua, yakni pimpinan dan beberapa anggota dewan sedang mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo menjelang peringatan 17 Agustus 2021. "Tadi saya ke sana mau bacakan harapan saya. Akan tetapi tidak diterima (tidak diberi ruang oleh polisi), karena pemerintah sudah otoriter dan selalu memberi stigma negatif orang Papua," ujarnya. 

Melihat sikap kepolisian itu, Pdt. Benny Giay berkesimpulan situasi di Tanah Papua, semua dikendalikan aparat keamanan. Para intelijen diduga sudah memberi pandangan kepada orang Papua, dengan selalu menstigma mereka dari sisi politik. "Dari peristiwa tadi, saya simpulkan, parat keamanan ini mau tutup semua ruang gerak warga sipil. Termasuk anggota dewan yang tadi mau menemui saya. 

Tadi tiga anggota dewan mau terima kami, tapi kami tetap tidak diberi ruang," ucapnya. Katanya, ini menandakan negara melalui aparatnya begitu otoriter. Bahkan mereka tidak memberi kesempatan kepada anggota DPR Papua, untuk menerima dirinya. "Bahkan kami mau dipaksa berdoa di depan mereka. Saya kira, ini bagaimana tanda tanda demokrasi di Papua ke depan," katanya. Sementara itu, anggota Kelompok Kerja (Pokja) Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) Pdt. Nikolaus Degei mengatakan, apabila situasi ini terus berlanjut akan dibawa kemana Papua dan masyarakatnya. 

Semua agenda penyampaian aspirasi dari siapapun selalu diadang. "Ini keadilannya di mana? Kalau seperti ini undang-undang [yang mengatur setiap warga negara berhak menyampaikan pendapatnya] mesti diubah. Nilai nilai Pancasila juga mesti diubah," kata Pdt. Nikolaus Degei. Katanya, apabila setiap pihak di Papua yang akan menyampaikan aspirasi atau pendapatnya kepada lembaga terkait, selalu dihalangi dengan berbagai stigma apa jadinya situasi Papua ke depan. 

"Kalau semua distigma, nilai kemanusiaan kemana? Apakah ini mau selamatkan masyarakat atau negara? Ataukah menghancurkan masyarakat atau negara?" ucapnya. (*) Editor: Angela Flassy
Visit website

Tuesday, August 17, 2021

Penghadangan Pdt.Giay di DPR Papua Menjadi Perhatian Konferensi Gereja Pasifik

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC) membahas perlakuan aparat keamanan Indonesia terhadap Pdt.Dr.Benny Giay di Jayapura pada, Senin (16/8/2021).

Pdt.Benny dibatasi dan ditahan di pintu pagar kantor DPR Papua ketika hendak melakukan doa dan renungan bersama melihat situasi di tanah Papua saat ini.

Pendeta Giay adalah Ketua Sinode gereja Kingmi di tanah Papua dan moderator Dewan Gereja Papua (DGP).

PCC menganggap, Pdt.Giay sangat dihormati di tanah Papua sebagai tokoh Kristen. Ia diperlakukan seperti penjahat biasa ketika hendak mencoba untuk berdoa dan membacakan renungan bersama anggota DPR Papua di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua.

Dengan melihat itu, PCC mengaku sangat sedih bahwa pasukan keamanan Indonesia terus tidak menghormati para pemimpin dan rakyat Papua, meskipun ada Undang-Undang Otonomi khusus (Otsus) Papua.

Otonomi sendiri ditetapkan pada 2001 dan diperbarui pada 2021 tanpa konsultasi dengan rakyat Papua. Undang-undang tersebut seharusnya dirancang untuk mengabadikan nilai-nilai dan cita-cita penduduk asli Papua, dan memberi mereka keadilan dan perlakuan yang adil.

PCC menganggap, apa yang diperlakukan terhadap pendeta Giay menunjukkan bahwa meskipun memiliki undang-undang sendiri, Indonesia memperlakukan rakyat Papua secara tidak adil, tidak demokratis dan tidak manusiawi.

PCC menyarankan kepada pemerintah di Pasifik harus mengatasi masalah ini dengan Indonesia yang ingin menjadi bagian dari komunitas regional melalui banyak lembaga pembangunannya.

PCC menyerukan Indonesia untuk mengakhiri perlakuan kejam dan kekerasan terhadap orang Papua oleh pasukan keamanan.

PCC juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia agar pembebasan Victor Yeimo, Jubir internasional Komite Nasional Papua Barat dari Mako Brimob Jayapura, dan mendesak agar dia diperlakukan dengan bermartabat dan adil

Bacaan: Yohanes 1:1-12; SAYA BERSEDIA

NATS: Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yohanes 1:12)

Seorang penginjil mencoba membantu seorang wanita untuk memahami isi Yohanes 1:12 dan apa artinya menerima Kristus. "Nama keluarga Anda Franklin, bukan?" tanyanya. "Ya," jawab wanita itu. "Berapa lama Anda menyandang nama itu?" "Sejak saya dan suami saya menikah 30 tahun lalu." "Ceritakanlah," kata sang penginjil, "bagaimana Anda dapat menjadi Nyonya Franklin?"

Wanita itu diam sejenak. "Ketika kami menikah, bapak pendeta menanyai saya, 'Apakah Anda bersedia menerima pria ini sebagai suami Anda yang sah?' dan saya berkata, 'Ya, saya bersedia.' Dengan berkata demikian saya menjadi istrinya." "Anda tidak berkata, 'Saya harap begitu,' atau 'Saya akan mencoba menerimanya sebagai suami saya?'" tegas sang penginjil. "Tidak," jawab wanita itu. "Saya berkata, 'Saya bersedia,' itu saja."

Sang penginjil menjelaskan bahwa Allah pun ingin ia menerima Kristus sebagai Juruselamat dengan cara yang sama. Akhirnya wanita itu mengerti dan berseru, "Alangkah sederhananya!" Ia sampai bertanya-tanya mengapa tidak dari dulu ia berkata, "Saya bersedia," sehingga saat itu juga ia dapat menerima Kristus sebagai Juruselamat dan mempercayai apa yang dikatakan Alkitab mengenai Dia, yakni bahwa Kristus mati untuk menebus dosa-dosanya.

Sudahkah Anda mempercayai Tuhan Yesus Kristus untuk menyelamatkan Anda? Jika belum, katakanlah sekarang dari lubuk hati Anda, "Tuhan Yesus, saya bersedia berbalik dari dosa-dosa saya dan menerima Engkau sebagai Juruselamat pribadi saya." Inilah kalimat terpenting yang harus kita ucapkan-RWD


IMAN ADALAH TANGAN
YANG MENERIMA KARUNIA KESELAMATAN DARI ALLAH

Monday, August 16, 2021

Renungan: JANGAN PERNAH MENYERAH

Dalam pengiringan akan Tuhan tidak selamanya perjalanan yang kita tempuh mulus tanpa aral, terkadang Tuhan ijinkan kita melewati jalan gelap dan lembah-lembah kekelaman.

Seringkali ketika keadaan buruk menimpa, dengan penuh kepanikan kita berusaha mengatasinya dengan akal dan kekuatan sendiri; jika gagal, pikiran pun langsung tertuju kepada manusia yang kita harapkan dapat menolong. Hasilnya? Berharap kepada manusia pasti akan kecewa karena manusia penuh dengan keterbatasan.

*Jalan terbaik adalah lari secepatnya kepada Tuhan! Dobraklah pintu sorga dan ketuklah hati Tuhan dengan seruan yang lahir dari jiwa yang letih lesu.*

*Berhentilah mengeluh, sebaliknya tetap ucapkan syukur untuk semua yang telah terjadi, seperti yang dikatakan Yunus: "Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!" (Yunus 2: 9).*

*Dengan mengucap syukur semangat yang padam menjadi pulih kembali, iman yang sudah lemah dapat bekerja kembali.*

Ketika iman telah bangkit di situlah kuasa Tuhan akan dinyatakan, karena musuh yang paling ampuh untuk memadamkan kuasa Tuhan adalah iman yang telah gugur. 

Sekalipun sudah berada dalam kegelapan yang terdalam dan tiada sinar cahaya menembus, asal kita punya iman, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan: "...berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat." (Yunus 2: 10). 

*"Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau," Mazmur 50:15.*

_Selamat Pagi dan Selamat Beraktifitas, tetaplah percaya tetaplah setia. GBU_

Sunday, August 15, 2021

CHINA-PAPUA ROAD MAP: RAKYAT CHINA/ TIONGHOA DAN PAPUA BARAT HARUS BERDIRI BERSAMA UNTUK MELAWAN DISKRIMINASI RASIAL DI INDONESIA

Artikel: Solidaritas CHINA-PAPUA 

"Karena rakyat Tionghoa atau rakyat China dan bangsa Papua bersama-sama menjadi korban diskriminasi RASIAL sistematis dan masif di Indonesia". 

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Sudah waktunya, rakyat dan bangsa Papua Barat keluar dari tempurung hoax, mitos, stigma dan label negatif penguasa kolonial modern Indonesia yang mematikan dan menghancurkan serta merendahkan martabat kemanusiaan kami dan masa depan anak dan cucu bangsa Papua. Maka, sudah saatnya dibentuk CHINA-PAPUA ROAD MAP atau dengan sebutan lain: "China-West Papua Movement Solidarity for Humanity, Equality, Friendship And Human Being Freedom". Atau Solidaritas Gerakan China-Papua Barat untuk Kemanusiaan, Kesetaraan, Persahabatan, dan Kebebasan Manusia. 

Gerakan Solidaritas rakyat Tionghoa dan rakyar Papua Barat ini sangat mendesak dibentuk karena fakta sebenarnya di Indonesia, ada dua bangsa yang sama-sama menjadi korban diskriminasi RASIAL yang terlama dan terpanjang dalam sejarah di Asia yaitu dari bangsa rakyat China dan bangsa Papua Barat. Oleh karena dasar itu, melalui artikel ini, penulis membuka mata, pikiran dan hati nurani semua orang untuk melihat diskriminasi rasial secara sistematik, terstruktur, terlembaga, masif dan kolektif di Indonesia dialami rakyat Tionghoa dan bangsa Papua Barat. Di Indonesia dua bangsa ini benar-benar menjadi korban diskriminasi rasial yang kejam dan tidak manusiawi. Rakyat Tionghoa/China menjadi korban yang bermotif ekonomi 

Rakyat China/Tionghoa menjadi korban diskriminasi rasial dari penguasa dan rakyat Indonesia karena motif ekonomi di Indonesia. Karena orang-orang Indonesia merasa dan juga melihat orang-orang China lebih berhasil dan maju secara ekonomi daripada orang-orang Indonesia sendiri. Penguasa dan rakyat Indonesia merasa disisihkan atau tidak mampu bersaing dengan Orang Tionghoa atau China yang lebih mendominasi dalam pergerakan bidang perekonomian di Indonesia. 

Dipihak rakyat dan bangsa Papua Barat menjadi korban yang berlapis-lapis, yaitu korban rasisme, fasisme, ketidakadilan, pelanggaran berat HAM-Pemusnahan etnis Papua, militerisme, kolonialisme, kapitalisme dan korban sejarah Pepera 1969 yang cacat hukum dan moral yang dimenangkan ABRI. 

Menyadari kekejaman penguasa dan rakyat Indonesia, maka Rakyat Papua harus berkomitmen dan berdiri bersama rakyat Tionghoa/Rakyat China di Indonesia supaya tidak boleh ada orang China dibunuh secara massal. Tidak boleh perempuan-perempuan China yang diperkosa oleh bangsa Melayu Jawa seperti peristiwa anti komunis tahun 1965 dan peristiwa Mei 1998 lagi. 

Muhammad Kuhhibbuddin dalam buku Pramoedya Catatan dari Balik Penjara (2001:90) menuliskannya sebagai berikut: 

"...kebijakan yang mendiskriminasi warga Tionghoa di era Orde Lama itu sesungguhnya diciptakan oleh ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik sosial di masyarakat, dengan tujuan utama adalah untuk memutus hubungan antara Indonesia dengan RRC. ...bahwa diketahui itu anti-China sejak dulu, bagi Pram, sebenarnya lebih digerakkan oleh militer, terutama Angkatan Darat." 

Sebaliknya, rakyat dan bangsa Papua Barat tidak boleh lagi menjadi korban kekerasan, dan diskriminasi rasial. Kita harus hentikan kekejaman Negara dan rakyat Indonesia. 

Beberapa alasan utama penulis sebagai berikut: 

1. China bukan imperialis apalagi kolonialis. Pemerintah China tidak pernah invasi dengan kekuatan militer dan menjadikan wilayah tersebut sebagai wilayah jajahan. Pemerintah China tidak pernah menjajah Papua barat. 

2. Pemerintah China tidak pernah terlibat dalam Perjanjian New York 15 Agustus 1962, UNTEA 1962-1963. 

3. Pemerintah China tidak pernah terlibat dalam masuknya PT Freeport Amerika ke Papua Barat 1967. 

4. Pemerintah China tidak terlibat dalam PEPERA1969. 

5. Pemerintah China tidak pernah terlibat dalam konsep mendatangkan transmigrasi Jawa ke Papua. 

6. Pemerintah China tidak terlibat dalam pembuatan UU No. 21 tentang OTSUS untuk Papua. 

Dari enam alasan ini terbukti, Pemerintah China tidak pernah terlibat dalam semua proses dan tindakan yang menyebabkan pelanggaran berat HAM yang menuju pada pemusnahan etnis orang asli Papua. Yang terjadi di Indonesia ialah warga Tionghoa/rakyat China menjadi korban diskriminasi rasial yang seperti dialami rakyat Papua sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang. 

Mari, seluruh rakyat dan bangsa Papua di Papua Barat, di Indonesia, di Pasifik, di Eropa, di Afrika, di Amerika berdiri bersama-sama dengan rakyat Tionghoa untuk melawan diskriminasi rasial di Indonesia. Mari, kita berjuang bersama kehormatan martabat kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, kebebasan dan kedamaian untuk semua umat manusia. 

Rakyat dan bangsa Papua perlu hidup dengan kehidupan ekonomi, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang layak dan manusiawi di atas Tanah leluhur kami. Kami tidak kenyang dengan rekayasa hoax, mitos, stigma dan label negatif. Rakyat dan bangsa membutuhkan sahabat yang tidak menggunakan moncong senjata tapi kami membutuhkan sahabat yang berbudi luhur dan berbicara dari hati untuk memajukan kami dalam berbagai bidang. Kami bangsa yang sangat terpuruk selama 58 sejak 1 Mei 1963. Masa depan kami sangat suram dalam penguasa tangan besi Indonesia. 

Rakyat dan bangsa Papua mengerti dan menyadari dan mengakui, bahwa 
Presiden Xi Jinping dan rakyat China bukan bangsa Komunis. Xi Jinping dan rakyatnya ciptaan Tuhan yang memiliki kebenaran-kebenaran hakiki, memiliki nurani luhur dan rasa kemanusiaan tinggi. Istilah Komunis adalah mitos dan hoax ciptaan Negara-Negara Barat dan penguasa Indonesia demi kepentingan politik dan ekonomi mereka. Negara-negara Barat dan Indonesia tidak mau disaingi secara politik, militer dan ekonomi oleh China. Sebagian besar penduduk bumi ini dirancuni pikiran mereka dan menjadi korban kepentingan politik dan ekonomi negara-negara barat dan Indonesia. Sebagian besar penduduk dunia dipenjarakan dalam pikiran negara-negara barat supaya secara bersama-sama memusuhi dan melawan China dengan mitos komunis. 

Xi Jinping pribadi dan pemimpin yang bernurani luhur karena kata-kata dan tindakannya selalu berjalan bersama. Jinping konsisten dengan perkataanya. Xi Jimping berdiri kokoh pada kebenaran hakiki untuk dirinya, keluarga, rakyatnya, bangsanya. 

Akhir dari artikel ini, saya tidak akan menjadi orang China karena saya menulis tentang Xi Jinping dan rakyat China. Saya orang Lani, orang Papua, bangsa Melanesia, saya orang Kristen beraliran Baptis, dan saya percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juselamat saya. 

Seperti Matahari tetap matahari. Matahari tidak pernah berubah mengantikan posisi bulan atau bintang. China tetap China. Bangsa China diciptakan Tuhan sebagai manusia sama seperti kita semua, bukan dengan nama komunis. 

Terimalah Salam hangat dan rasa hormat serta doa saya kepada yang mulia bapak Presiden China, Xi Jinping dan rakyat China dari Ita Wakhu Purom, Melanesia, West Papua. 

Doa dan harapan penulis, artikel singkat ini menjadi berkat. Selamat Membaca. Tuhan memberkati. Waa...Waa....Kinaonak. 

Ita Wakhu Purom, 13 Agustus 2021 

Penulis: 
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. 
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota: Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA). 

======
Contak: 08124888458
Email: socratesyoman@gmail.com

Monday, August 9, 2021

Ini Pendapat Veronica Koman Terhadap Kondisi Victor Yeimo

Suara Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Veronica Koman angkat bicara terkait memburuknya kondisi kesehatan Victor F Yeimo di Rutan Mako Brimob Polda Papua sejak tiga bulan lalu.

“Victor Yeimo tidak akan selamat bila terus berada di balik penjara kolonial. Kolonialisme akan terus meminta tumbal politik,” tulis Veronica Koman di wall akun facebooknya, Senin (9/8/2021) Pukul 13.00 WIT.

Dia menyebut pemenjaraan Victor Yeimo bagian dari penjajahan harga diri orang Papua yang terjadi selama puluhan tahun.

“Dipenjarakannya Victor adalah masalah diinjak-injaknya harga diri Orang West Papua: Orang West Papua tidak boleh bangkit melawan rasisme, orang West Papua tidak boleh bicara hak atas penentuan nasib sendiri bahkan secara damai,” tulisnya lagi.

Veronica Koman berpendapat, memindahkan Victor yang kondisi tubuhnya sedang lemah seperti itu ke Lapas Abepura artinya sama saja memindahkan Victor dari sarang macan yang satu ke sarang macan yang lain.

“Lapas Abepura itu overkapasitas, sehingga merupakan sarang Covid-19. Untuk itu, satukan tuntutan: Bebaskan Victor Yeimo sekarang juga!,” tulisnya dengan nada tegas.

Victor F Yeimo, juru bicara internasional Komite Nasional Papua Barat (KNBP) yang juga juru bicara Petisi Rakyat Papau (PRP) ditangkap aparat keamanan di bilangan Tanah Hitam, Abepura, Kota Jayapura, 9 Mei 2021. Digelandang ke Mako Polda Papua sebelum dijebloskan ke Rutan Mako Brimob Polda Papua.

Sejak ditahan hingga beberapa saat kemudian muncul desakan pembebasan Victor Yeimo dari jeratan hukum. Tuduhan dan pasal yang dikenakan hingga penutupan akses dinilai tak berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Karena itu, pemerintahan Joko Widodo didesak bebaskan segera Victor Yeimo dari Rutan Mako Brimob Polda Papua. Juga bebaskan seluruh mahasiswa dan orang Papua dari berbagai rumah tahanan di Indonesia.

“Victor Yeimo bukan pelaku rasisme. Dia justru korban rasisme. Dia tidak terlibat dalam kerusuhan di Kota Jayapura. Mengapa sampai sudah tiga bulan masih ditahan di Brimob Papua? Kesehatannya sudah menurun. Kami minta segera bebaskan dari tahanan,” ujar Sam Gobay, badan pengurus Dewan Adat Suku Mee kabupaten Mimika, Minggu (8/8/2021).

Dari informasi yang diterimanya, kata Sam, kondisi tubuh aktivis Papua itu menurun drastis.

“Tidak ada akses kesehatan bagi Victor Yeimo. Sudah sakit, tidak diizinkan dia berobat. Makanan juga tidak diberikan. Semua akses dibatasi. Ini rencana apa sama Victor Yeimo? Kami minta bebaskan Victor sekarang juga,” ujarnya.

Penangkapan dan penahanan Victor Yeimo dinilai bagian dari pembungkaman ruang demokrasi bahkan menuju upaya kriminalisasi aktivis Papua.

“Dasar hukumnya apa sampai negara mengkriminalisasi Victor Yeimo? Dia bukan pelaku rasisme, apalagi dicap makar. Semua orang tahu bahwa Victor Yeimo tidak terlibat dalam aksi demonstrasi yang berujung rusuh di Kota Jayapura,” ujar Sam Gobay.

“Masyarakat Papua mendesak kepada bapak Jokowi segera desak Kapolri dan Kapolda Papua untuk bebaskan Victor Yeimo dari tahanan Brimob Polda Papua,” tegas Sam.

Pernyataan sama ditegaskan Agus Kossay, ketua umum KNPB pusat, melalui siaran pers, Senin (9/8/2021).

KNPB menyatakan mendesak Kepolisian Daerah Papua dan Kejaksaan Tinggi Papua segera membebaskan Victor Yeimo dari penjara yang ditahan sejak tiga bulan lalu, 9 Mei 2021.

Menurut Agus, penahanan Victor tanpa dasar hukum dan selama tiga bulan mendekam di Rutan Mako Brimob kesehatannya makin memburuk.

“Demi kemanusiaan dan wibawa negara Indonesia, segera bebaskan Victor Yeimo dan semua aktivis kemerdekaan Papua yang ditangkap tanpa dasar, bukti, dan saksi. Rakyat Papua bukan pelaku rasisme,” ujar Agus Kossay.

Ones Suhuniap, juru bicara nasional KNPB pusat menyatakan, jika Victor Yeimo tetap ditahan, KNPB akan menyerukan kepada seluruh rakyat Papua dan seluruh aktivis KNPB untuk ditangkap Polda Papua.

Dia bahkan menilai pihak Polda dan Kejaksaan melanggar aturan negara Indonesia.

“Victor Yeimo harus dibebaskan demi hukum karena masa tahanan berdasarkan KUHP 60 hari sudah lewat, tetapi penambahan 30 hari lagi penahanan Victor Yeimo melanggar hukum itu sendiri,” ujar Ones.

Sebelumnya, Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua (KPHHP) selaku kuasa hukum Victor F Yeimo mendesak Kepala Kejaksaan Tinggi Papua dan Kepala Kejaksaan Negeri Jayapura segera menjawab permintaan pemindahan kliennya dari Rutan Mako Brimob ke Rutan Lapas Abepura.

Hal ini menurut Emanuel, berdasarkan fakta Victor Yeimo selama mendekam di rutan Mako Brimob Polda Papua sejak 10 Mei 2021 hak-haknya sebagai tersangka belum terpenuhi.

“Saat Jaksa menanyakan Victor F Yeimo terkait ada hal yang ingin disampaikan, Victor meminta pindahkan tahanan dari Rutan Mako Brimob ke Lapas Abepura dengan pertimbangan pemenuhan hak-haknya sebagai tersangka. Victor beralasan bahwa sejak awal menjalani tahanan di Mako Brimob Polda Papua sempat terabaikan akibat SOP Mako Brimob Polda Papua. Lagi pula kondisi psikologinya lantaran tinggal sendirian dan ruangan pengap yang dapat membahayakan kesehatan tubuhnya,” beber Gobay.

Sayangnya, kata direktur LBH Papua ini, permintaan Victor dengan argumentasi serta pengalaman yang dijalani sejak 10 Mei sampai 6 Agustus 2021 itu tak dijawab secara profesional oleh Jaksa.

“Kepala Kejaksaan Tinggi Papua segera perintahkan Jaksa Pengawas Kajati Papua Cq Jaksa Pengawas Kajari Jayapura memeriksa Jaksa penerima berkas dan tersangka atas nama Victor F Yeimo yang dilakukan tidak sesuai dengan perintah pasal 8 ayat (3) huruf b Undang-Undang nomor 8 tahun 1981,” tandasnya.

Selain itu, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Papua juga diminta segera mengawasi institusi Kejaksaan Negeri Jayapura dalam implementasi hak-hak Victor F Yeimo sebagai tersangka yang dijamin dalam Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.

Penegasan ini disampaikan menyusul pelimpahan berkas dan tahanan atas nama Victor F Yeimo oleh Penyidik Polda Papua ke Kejaksaan Negeri Jayapura, 6 Agustus 2021.

REDAKSI

The post Ini Pendapat Veronica Koman Terhadap Kondisi Victor Yeimo appeared first on Suara Papua.

Visit website

Monday, July 26, 2021

Halus itu Duri oleh Book Bunai

Suara Papua / Suara Papua / 2 days ago

Oleh: Nopi Bunai Jr)*
)* Penulis adalah alumnus SMA Negeri 2 Wanggar, Nabire

Orang harus berhati-hati jika ada orang datang dengan penuh senyum. Karena belum tentu ia yang mudah senyum itu berbulu domba – suci. Sama seperti orang lari ke gereja atau kepada Tuhan untuk mau menyembunyikan dosanya. Mereka mencoba menjadi anak domba yang baik. Mereka memperlihatkan kebaikan di awal-awal. Namun, itu biasanya membawa malapetaka bagi manusia pada akhirnya. Di dunia politik, hal ini disebutnya pencitraan.

Hal seperti ini kita bisa mempelajari pada kisah; ular di taman eden, public figure kepada masyarakat jelata, keracunan pada beauty, dan perusahaan e-commerce Amazon yang kian jadi diktator. Tidak lupa juga bagaimana Jakarta dan bunglon-bunglon Papua merayu Papua.

Ular di taman eden. Hawa bersukaria mendengarkan suara ular di pohon khuldi: pohon yang menurut Tuhan Allah, tidak mengizinkan serupaNya (manusia) untuk petik, bahkan makan buah dari pohon tersebut. Namun, Hawa tidak mengindahkan kata-kata Tuhan. Hawa selanjutnya divirusi dengan kata-kata gombalan mematikan dari setan yang menyerupai ular itu.

Orang pertama di dunia jatuh ke dalam dosa. Hanya karena Hawa makan buah segar dan mendengarkan kata-kata manis dari iblis, maka perempuan dan laki-laki pertama dua itu harus angkat kaki dari taman surga – firdaus. Buah segar yang begitu tergila-gila di pandangan Hawa telah tidak bernilai. Hasil dari kelakuannya itu menjadi fatal dalam kehidupan Hawa dan Adam. Kefatalan itu pun telah ditanamkan tidak hanya pada mereka dan anak cucunya, tapi kita juga sedang merasakan hasil kemalangan itu sampai detik ini.

Orang tidak seharusnya salah paham bila kejadian yang sama terjadi di kehidupan manusia. Jika ada orang-orang pintar mendekati dengan segala D3; dana, data, dan daya kepada masyarakat, ditambah lagi lontaran kata-kata susu-manis ke warga, orang tidak seharusnya terlalu percaya penuh dengan omongan dan pertolongan manis mereka. Masyarakat, namun demikian, sebaiknya menghindari umpama Hawa yang ingin cepat tangkap suara dari ular licik itu. Sebab, suara manis yang dibagikan oleh intelektual-intelektual, jangan sampai terjadi hal-hal yang memanipulasi masyarakat dari belakangnya. Di muka terlihat senyum, tetapi dalam hatinya mau meruntuhkan warga. Sebuah strategi yang biasa dilakukan penjajah kepada koloni-koloninya sejagat raya ini.

Juga, kita tidak mengagungkan strategi raja-raja penambang emas dan penebang lahan-lahan sawit di negeri ini, yang sudah diceritakan di film dokumenter Sexy Killers. Elit-elit ini datang menyapa masyarakat setempat dengan sodorkan uang bermiliaran; hasilnya, akan menuai neraka tidak hanya pada pencemaran lingkungan, tapi juga kepada kehidupan manusia di bumi Indonesia.

Menawan tidak berarti baik. Manusia kadang juga tergila-gila sama orang yang penampilan dan badannya yang cukup memikat hati. Setelah seorang pria ketemu seorang gadis, yang dia anggap suka, lelaki melepaskan pasangan atau pacar lamanya begitu saja. Ia akan lanjutkan dengan wanita baru. Ia tidak tahu kalau perempuan baru itu bisa saja menjadi ular mematikan kehidupannya. Laki-laki juga sama.

Selebihnya, kita bisa lihat kenapa Papua masih memimpin klasemen teratas ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di Indonesia. Apakah Papua nama naik dalam ODHA karena gonta-ganti pasangan? Tidak begitu juga, tetapi realita menunjukkan bahwa bergonta-ganti pasangan, atau kata lain, membayangkan orang lain lebih baik dari pasangan kita, rentan mengakibatkan letal.

Selama ini, masalah yang sama, sebuah perusahaan e-commerce terkenal Amerika, Amazon.com, lakukan ke khalayak (pelanggan). Orang tidak menyadari apa yang Amazon garap kepada manusia. Dalam ketidaktahuan orang-orang, sebuah perusahaan milik Jeff Bozes ini mengkolonisasi umat manusia di mana saja dan kapan saja.

Amazon meninabobokan manusia dengan segala yang ia produksi dan miliki. Jeff beli media Amerika terkenal, The Washington Post. Slogannya, “Democracy Dies in Darkness.” Apakah Amazon mau menyembunyikan dosa-dosanya di media ini? Karena Amazon telah dan sedang mulai memata-matai orang dengan device-device yang mereka buat seperti diceritakan dalam dokumenter PBS Frontline baru berjudul: Amazon Empire: The Rise and Reign of Jeff Bezos. Salah satu device-nya adalah Amazon Alexa.

Sebagaimana cerita enak diuraikan pada awal, Amazon menyediakan alat-alat yang menarik untuk baku jual beli. Bagaimana Amazon: awalnya dari toko buku online, sekarang beralih ke toko segalanya (baik fisik maupun online), platform pasar, pengecer grosir, pemasok alat pengawas gadget kapitalis, penyedia cloud computing terbesar, Amazon Web Services (AWS), kontraktor Central Intelligence Agency (CIA), layanan streaming musik, dan studio film dan TV. Juga, Bezos bermimpi mengirimkan manusia ke bulan melalui roket Blue Origin miliknya. Ia berharap generasi-generasi masa depan bisa menghuni di luar angkasa lantaran pertumbuhan orang sangat pesat di bumi ini.

Aneka platform yang Bezos ciptakan itu, apakah akan membawa manusia ke jurang yang tidak bisa tertolong? Atau apakah bos Amazon mengabaikan sebuah buku novel, 1984 oleh George Orwell, tentang dunia distopia? –segala seluk beluk kehidupan sipil dikawal ketat oleh kekuasaan –yang punya uang– kapitalisme sejak Amazon membeli The Washington Post. Bukankah slogan “Democracy Dies in Darkness,” tidak cocok dengan dunia distopia dan anti-demokrasi? Ataukah jangan-jangan slogan itu dimanfaatkan oleh Amazon untuk mematikan kekuasaan manusia? Jika benar ia bermimpi seperti itu, saya hanya membayangkan kita kembali mengundang kolonialisme di era teknologi dewasa ini.

Itulah keberadaan dunia kita saat ini. Di luar kita menikmati hasil belanjaan dari Amazon dengan baik. Kita disuapi dengan Amazon Prime, pengiriman cepat, dan kekuatan AI (artificial intelligence) sehebat Alexa yang menemani kita setiap hari. Tetapi, Amazon Alexa, menurut dokumentasi itu, dikritisi kalau ia adalah sebuah alat yang mengontrol seluk-beluk gerakan dan aktivitas manusia di rumah. Pekerja-pekerja di Amazon, khususnya di tempat kerja seperti di Amazon warehouse, juga diperlakukan tidak adil. Mereka bekerja di bawah tekanan. Mereka harus bekerja seperti robot.

Saya merefleksikan hal-hal di atas ini di Indonesia terhadap Papua. Pada 1967, bagaimana Indonesia dan PT Freeport (Amerika) menandatangani pemboran emas Papua tanpa keterlibatan warga setempat. Lalu, Jakarta dan elit (sebagian) Indonesia dan Papua datang dengan senyum kepada kepala-kepala suku, gereja, dan sekolah di Papua. Akhir dari semuanya itu, tidak menjamin keselamatan rumpun Melanesia bila kita bercermin baik-baik pada hari-hari ini.

Paling menakutkan lagi adalah segelintir orang Papua (terpelajar, intelektual, dan bertitel berceceran) sendiri mempermainkan orang Papua. Mereka melupakan bidang keahliannya, keindependensiannya, dan kemudian pergi menikah dengan pemerintah. Saat mereka di pangkuan pemerintah, mereka dipasang dan disusupi sedemikian rupa oleh pemerintah. Bisa dikatakan robot-robot Jakarta, yang hasilnya melahirkan banyak perselingkuhan antara orang Papua itu sendiri.

Kaum oportunis Papua ini pun men-seduce masyarakat Papua dengan segala harta benda, uang negara. Mereka mereproduksikan kelakuan Jakarta –penyebar pencitraan– yang dibungkusi dengan senyuman palsu mereka.

Kebaikan palsu seperti demikian sudah terbiasa di Papua. Penyakit ini tidak bisa hilang sejak Papua masuk ke dalam Indonesia. Masih ada sampai saat ini. Sayangnya, orang Papua sendiri melakukan hal ini kepada sesama orang Papua. Maka, bukan tidak mungkin bahwa segelintir bunglon ini sungguh-sungguh memperparah dan memperpanjang penderitaan orang Papua.

Bunglon-bunglon Papua ini seharusnya melontarkan sebuah pertanyaan jitu tentang akar persoalan Papua kepada Jakarta. Contohnya, mereka sewajarnya bilang: “bagaimana bisa Papua masih saja jauh dari kata damai (bukan sejahtera) meski negara ini sudah merdeka, bahkan berambut putih, 70an?”.

Atau, “kenapa masyarakat Nduga tidak tenang di rumahnya dan lari menyelamatkan diri ke hutan yang kedua kalinya, selain Operasi Mapnduma pada 1996?”.

Kalau mereka tidak mengajukan pertanyaan seperti ini, kredibilitas mereka bisa saja jatuh gara-gara mereka mendorong sesuatu yang banyak orang Papua sendiri sepenuhnya tidak inginkan dan cita-citakan.

Untuk itulah, saya hanya mengharapkan hal yang ‘manis duluan dan pahit setelahnya’ ini tidak pantas terus terjadi di Papua, khususnya. Karena seseorang memperlihatkan ‘baik itu kadang kotor’ –mematikan orang lain. Pastinya, halus itu duri. Game ini sepantasnya mengeliminasi secara permanen sejak dari pribadi dan pikiran manusia siapa saja. (*)

(Artikel ini telah diterbitkan penulis di blog pribadinya, nopjr.com. Dipublikasikan kembali di Suara Papua atas persetujuan penulis)

The post Halus itu Duri appeared first on Suara Papua.

Visit website